Bisnis.com, JAKARTA- Makanan
merupakan kebutuhan utama manusia. Seiring makin padatnya aktivitas,
banyak masyarakat tak sempat menyiapkan masakan. Solusinya, mereka
mencari makanan siap saji yang populer seperti makanan beku (frozen food)
Selain praktis, kelebihan lain frozen food adalah sifatnya yang tahan lama. Asal disimpan di dalam lemari pendingin (freezer),
makanan ini bisa bertahan berbulan-bulan. Namun demikian, banyak
pabrikan menambahkan bahan pengawet dan perasa kimia ke dalam frozen food. Oleh karena itu, masyarakat makin selektif dalam memilik lauk siap olah.
Fenomena
tersebut membuka peluang bisnis nan potensial. Berbekal keahlian
memasak, ada pelaku usaha kecil menengah (UKM) memproduksi lauk siap
olah bercita rasa rumahan. Menawarkan cita rasa khas, dan tidak
menambahkan zat pengawet atau bahan kimia lain. Lauk siap saji kini
makin bergizi. Tak heran, produk ini diserbu masyarakat yang super
sibuk, khususnya ibu rumah tangga.
Salah satu pelaku usaha yang
menawarkan lauk praktis nan lezat adalah Stephanus Lukmanto. Pria asal
Malang, Jawa Timur ini memproduksi ayam dan bebek bumbu siap saji
bermerk The Koki Instan sejak 2012.
Berbeda dengan makanan instan buatan pabrik (frozen food),
Stephanus menggunakan daging ayam dan bebek segar. Agar rasanya lebih
mantap, dia mencampur bahan baku tersebut dengan bumbu rempah khas
racikan sang ibunda.
Ada tiga varian produk The Koki Instan, yaitu
ayam goreng kampung, ayam manghot, dan bebek goreng gurih. Satu kemasan
berisi 1 ekor ayam atau bebek yang sudah dimasak setengah matang dan
dicampur bumbu rempah. Untuk menyajikannya, konsumen tinggal menggoreng
atau mengukusnya saja.
Lantaran enak dan praktis, pangsa pasar produk The Koki Instan makin meluas.
Satu
kemasan ayam goreng The Koki Instan dibanderol dengan harga Rp60.000.
Stephanus menjual bebek goreng siap saji dengan harga Rp70.000 per
kemasan. Sayangnya, dia tak menjabarkan soal omzet dan margin keuntungan
yang didapat setiap bulan.
Kunci kesuksesan berbisnis produk
makanan ada di kelezatan rasa. Konsumen pasti akan loyal dan terus
membeli kuliner jika sudah rasanya pas di lidah mereka. Hal inilah yang
dipegang teguh oleh Stephanus.
Proses pembuatan lauk siap saji ini
terbilang mudah. Awalnya, Stephanus memotong dan membersihkan ayam.
Selanjutnya, dia mencampur ayam dengan bumbu rempah dan memasaknya
hingga setengah matang.
Setelah itu, dia membungkus ayam dengan plastik untuk makanan (food grade) dan membekukannya di freezer. “Sebelum dimasukkan ke freezerkami menyerap angin di dalam plastik agar bakterinya hilang,” katanya.
Stephanus memasarkan produk The Koki Instan lewat tokooffline, toko online dan keagenan (reseller). Toko offline milik Stephanus terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Adapun, di dunia maya dia membuat situs www.thekokiinstan.com untuk mempromosikan produknya. Terkait sistem keagenan, dia sudah memiliki agen di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta.
Seiring
berjalannya waktu, produk The Koki Instan makin dikenal masyarakat.
Jika dulu dia hanya mampu memproduksi 5—10 ekor ayam, kini dia
menghasilkan 60—70 ekor ayam setiap hari atau 1.000—1500 ekor ayam tiap
bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar