Kamis, 10 Juli 2014

PELUANG BISNIS: Pikat Konsumen Lewat Makanan Beku Tanpa Pengawet

Bisnis.com, JAKARTA- Makanan merupakan kebutuhan utama manusia. Seiring makin padatnya aktivitas, banyak masyarakat tak sempat menyiapkan masakan. Solusinya, mereka mencari makanan siap saji yang populer seperti makanan beku (frozen food)
Selain praktis, kelebihan lain frozen food adalah sifatnya yang tahan lama. Asal disimpan di dalam lemari pendingin (freezer), makanan ini bisa bertahan berbulan-bulan. Namun demikian, banyak pabrikan menambahkan bahan pengawet dan perasa kimia ke dalam frozen food. Oleh karena itu, masyarakat makin selektif dalam memilik lauk siap olah.
Fenomena tersebut membuka peluang bisnis nan potensial. Berbekal keahlian memasak, ada pelaku usaha kecil menengah (UKM) memproduksi lauk siap olah bercita rasa rumahan. Menawarkan cita rasa khas, dan tidak menambahkan zat pengawet atau bahan kimia lain. Lauk siap saji kini makin bergizi. Tak heran,  produk ini diserbu masyarakat yang super sibuk, khususnya ibu rumah tangga.
Salah satu pelaku usaha yang menawarkan lauk praktis nan lezat adalah Stephanus Lukmanto. Pria asal Malang, Jawa Timur ini memproduksi ayam dan bebek bumbu siap saji bermerk The Koki Instan sejak 2012.
Berbeda dengan makanan instan buatan pabrik (frozen food), Stephanus menggunakan daging ayam dan bebek segar. Agar rasanya lebih mantap, dia mencampur bahan baku tersebut dengan  bumbu rempah khas racikan sang ibunda.
Ada tiga varian produk The Koki Instan, yaitu ayam goreng kampung, ayam manghot, dan bebek goreng gurih. Satu kemasan berisi 1 ekor ayam atau bebek yang sudah dimasak setengah matang dan dicampur bumbu rempah. Untuk menyajikannya, konsumen tinggal menggoreng atau mengukusnya saja.
Lantaran enak dan praktis, pangsa pasar produk The Koki Instan makin meluas.
Satu kemasan ayam goreng The Koki Instan dibanderol dengan harga Rp60.000. Stephanus menjual bebek goreng siap saji dengan harga Rp70.000 per kemasan. Sayangnya, dia tak menjabarkan soal omzet dan margin keuntungan yang didapat setiap bulan.
Kunci kesuksesan berbisnis produk makanan ada di kelezatan rasa. Konsumen pasti akan loyal dan terus membeli kuliner jika sudah rasanya pas di lidah mereka. Hal inilah yang dipegang teguh oleh Stephanus.
Proses pembuatan lauk siap saji ini terbilang mudah. Awalnya, Stephanus memotong dan membersihkan ayam. Selanjutnya, dia mencampur ayam dengan bumbu rempah dan memasaknya hingga setengah matang.
Setelah itu, dia membungkus ayam dengan plastik untuk makanan (food grade) dan membekukannya di freezer. “Sebelum dimasukkan ke freezerkami menyerap angin di dalam plastik agar bakterinya hilang,” katanya.
Stephanus memasarkan produk The Koki Instan lewat  tokooffline, toko online dan keagenan (reseller). Toko offline milik Stephanus terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Adapun, di dunia maya dia membuat situs www.thekokiinstan.com untuk mempromosikan produknya. Terkait sistem keagenan, dia sudah memiliki agen di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta.
Seiring berjalannya waktu, produk The Koki Instan makin dikenal masyarakat. Jika dulu dia hanya mampu memproduksi 5—10 ekor ayam, kini dia menghasilkan 60—70 ekor ayam setiap hari atau 1.000—1500 ekor ayam tiap bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar